PERAN KONSELOR SEKOLAH DALAM LAYANAN ADVOKASI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Yang Muda, Yang Berkarya! Ungkapan itulah yang dinilai cocok untuk menggambarkan keadaan secara umum di SMK Negeri 2 Pangandaran. Bukan tanpa alasan, SMK Negeri 2 Pangandaran merupakan sekolah yang masih dapat dikatakan sekolah baru, tepatnya tahun ini lembaga pendidikan sekaligus pelatihan bagi siswa yang berlokasi di Desa Cintaratu, Kecamatan Parigi ini baru akan menginjak umur ke 5 tahun. Kata “Muda” dinilai sangat cocok dengan umur SMK Negeri 2 Pangandaran yang masih sangat muda. Namun demikian, walaupun tergolong muda hal tersebut tidak menghalangi sekolah ini untuk terus mencapai prestasi-prestasi yang tidak boleh dipandang sebelah mata.

Baru-baru ini, SMK Negeri 2 Pangandaran patut berbangga dengan prestasi yang ditorehkan oleh salah satu Tenaga Pendidiknya. Sosok tersebut adalah Roni Pransiska, S.Pd.. Beliau berhasil menorehkan prestasi yang sangat patut dibanggakan, yaitu makalah yang dibuatnya sukses menembus suatu seminar yang diselenggarakan oleh salah satu Perguruan Tinggi di Indonesia. Tidak sampai di situ saja, karya makalahnya yang berjudul “PERAN KONSELOR SEKOLAH DALAM LAYANAN ADVOKASI DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0” berhasil diangkat ke Jurnal Internasional. Hal ini tentunya sangatlah membanggakan baik bagi dirinya sendiri dan lebih luasnya bagi lembaga tempat beliau mengajar, dalam hal ini SMK Negeri 2 Pangandaran.

Dilihat dari Abstrak yang ditulis oleh Roni Pransiska, S.Pd., bahwa Peran utama Konselor Sekolah di Era Revolusi Industri 4.0., diharapkan dapat merumuskan berbagai jenis layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kebutuhan siswa pada era ini. Salah satu jenis layanan konselor sekolah dalam memberikan pelayanan kepada peserta didik yang dibutuhkan pada ini adalah layanan advokasi yang mengacu pada Permendikbud No. 111 (2014). Meski dalam Permen ini kita hanya mendapatkan informasi yang amat terbatas tentang advokasi, tetapi diharapkan dalam implementasinya, Konselor sekolah mampu memaknai dan melaksanakan advokasi pada tataran mikro maupun makro. Konselor seyogyanya mampu: (1) memberdayakan peserta didik dengan membantu mereka membangun keterampilan advokasi, (2) melakukan upaya negosiasi yang relevan guna membantu peserta didik mengakses sumber daya, (3) membangun hubungan kolaboratif dengan lembaga masyarakat yang relevan guna mengatasi berbagai tantangan dan kompleksitas saat ini, (4) melaksanakan gagasan advokasi pada level sistem, (5) mengkomunikasikan informasi yang relevan kepada publik, dan (6) melibatkan diri dalam kegiatan advokasi sosial/politik. Layanan advokasi adalah layanan konselor di sekolah yang dimaksudkan untuk memberi pendampingan peserta didik yang mengalami perlakuan tidak mendidik, diskriminatif, malpraktik, kekerasan, pelecehan, dan tindak kriminal. Fungsi Layanan Konselor dalam advokasi, membantu peserta didik memperoleh pembelajaran atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, peran konselor dalam layanan advokasi sangat penting dalam proses layanan bimbingan konseling di sekolah. Sehingga konselor harus mempunyai kemampuan untuk membimbing peserta didik dengan baik dengan metode psikopedagogis. Agar konselor mampu memberi pelayanan bimbingan secara optimal kepada peserta didik maka konselor harus mampu memahami karakteristik konseli dengan pendekatan-pendekatan psykologi, dan tidak hanya itu melainkan juga konselor harus memiliki pengalaman luas sesuai dengan perkembangan jaman saat ini.

Prestasi yang ditorehkan oleh bapak Roni Pransiska, S.Pd., ini menunjukkan bahwa walaupun SMK Negeri 2 Pangandaran merupakan sekolah baru, namun tidak sembarangan dalam melakukan perekrutan tenaga kerjanya. Salah satu buktinya adalah apa yang dilakukan oleh beliau baru-baru ini. Selain itu, hal ini juga menjadi salah satu bukti bahwa kualitas dari staf pendidik di SMK Negeri 2 Pangandaran tidak kalah bila dibandingkan dengan sekolah lainnya.

Pretasi ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi tenaga pendidik lainnya, khususnya di SMK Negeri 2 Pangandaran, dan umumnya di seluruh lembaga pendidikan yang ada agar jangan takut untuk mengukir sejarah bagi dirinya sendiri dan jangan berhenti membatasi potensi yang dimilikinya. Saatnya mewujudkan istilah Yang Muda Yang Berkarya, Ynag Muda Yang Berjaya.

Sumber : wawancara langsung dengan narasumber, ejurnal.mercubuana-yogya.ac.id/index.php/IJAGC/article/view/1046/643